Ada beberapa pembagian Delik atau tindak pidana di dalam KUH Pidana,sebenarnya pembagiannya tidak terbatas pda apa yang dipaparkan dibawah ini. delik-delik yang dijelaskan dibawah ini merupakan delik yang pada umumnya banyak dijumpai dalam peraturan pidana.

Delik Formal dan delik Material

Delik formal adalah delik yang dianggap telah selesai dengan dilakukannya tindakan yang dilarang dan diancam dengan hukuman   oleh undang-undang. yang dilihat dalam delik ini bukanlah akibat dari perbuatan itu melainkan perbuatannya sendiri.walaupun akibatnya tidak terjadi tapi ada perbuatan maka pelaku akan dikenakan hukuman pidana. contohnya : Pasal 162, 209, 210, 242 dan 362 KUH Pidana. sedangkan Delik material adalah delik yang dianggap telah selesai dengan ditimbulkannya akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang. contoh delik material : pasal 149, 187, 338, 378 KUH Pidana.

Delicta commissionis, delicta omissionis

Delicta commisionis adalah delik-delik berupa pelanggaran terhadap larangan-larangan di dalam undang-undang. contoh : pasal 212, 263,  285 dan 362 KUH Pidana.

delicta ommisionis adalah delik berupa pelanggaran terhadap keharusan-keharusan menurut undang-undang. contoh : pasal 217, 218, 224 dan 397 angka 4 KUH Pidana.

 

Opzettelijke delicten dan culpooze delicten

Opzettelijke delicten atau delik-delik yang oleh pembentuk undang-undang telah disyaratkan bahwa delik-delik tersebut harus dilakukan “dengan sengaja”

culpooze delicten, yakni delik-delik yang oleh pembentuk undang-undang telah dinyatakan bahwa delik tersebut cukup terjadi “dengak tidak sengaja” agar pelakunya dihukum.

 

Klacht delicten dan gewone delicten

klacht delicten adalah delik-delik yang hanya dapat ditutntu apabila ada suatu pengaduan dari orang yang merasa dirugikan. contoh : pasal 72 sampai 75 KUH pidana, 284 ayat 2, 287 ayat 2, 293 ayat 2, 319, 320 ayat 2, 321 ayat 3.

sedangkan yang dimaksudkan dengan gewone delicten hanya merupakan delik-delik biasa yang penindakannya bisa dilakukan tanpa adanya pengaduan dari korban.

Delictumcommunia dan delicta propria

yang dimaksud dengan delicta communia itau adalah delik-delik yang dapat dilakukan oleh setiap orang, sedang yang dimaksud dengan delicta propria adalalh delik-delik yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tertentu, misalnya sifat sebagai pegawai negeri, sebagai nahkoda kapal ataupun sebagai anggota militer.

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads